Duo Elemen Foto Potret: Cahaya dan Lensa
Dan Westergren, Direktur Fotografi National Geographic Traveler, kerap diminta jawaban dari pertanyaan ini: Apa saran Anda untuk menghasilkan foto potret yang baik? Jawabannya sederhana: cahaya dan lensa.
Penjelasan ringkasnya seperti ini. Meski semua sumber cahaya bisa digunakan, potret paling baik biasanya dibuat dengan cahaya open shade. Open shade ini bisa ditemukan di mana pun yang mendapat pancaran langsung sinar matahari.
Kondisi seperti ini bisa Anda temukan di emper rumah, beranda, atau di pintu terbuka. Atau bisa juga di bawah pohon, tapi ingat jangan sampai ada lubang yang membuat cahaya jatuh di muka subjek Anda.
Ide utama open shade adalah untuk memastikan bahwa cahaya jatuh secara merata pada subjek. Minus adanya hot spot kelewat cerah. Open shade juga mencegah adanya “efek rakun” yang disebabkan sumber cahaya yang berada tepat di atas kepala subjek. Ini membuat subjek Anda nampak punya kantung mata tebal.
Kemudian untuk lensa, telephoto ramping macam 85mm hingga 105 mm adalah yang terbaik untuk potret. Alasan utamanya karena Anda sebagai fotografer, bisa berada dalam jarak cukup nyaman dari subjek, tapi masih bisa mengambil foto close-up.
Secara umum, lensa telephoto juga punya depth of field yang lebih dangkal. Memungkinkan fotografer untuk konsentrasi pada wajah si subjek. Tapi ingat, ini membutuhkan fokus yang cermat.
Saat Selesai Kegiatan Kemah Siaga
Lensa wide-angle juga bisa digunakan untuk potret, cukup letakkan kamera cukup dekat dengan subjek. Tapi lensa ini bukanlah pilihan ideal. Mengapa? Karena perubahan sudut yang disebabkan bergerak lebih dekat, membuat hidung subjek Anda jadi tampak lebih besar.
MEMOTRET OKELAH SIAPA TAKUT
MEMOTRET OKELAH SIAPA TAKUT
Saya dan fotografer yang laen . Kami menuju ke sebuah perahu bertambang yang sudah berhari-hari kandas di tepi bantaran Kanal banjir Timur (KBT). Air kanal timpas, lumpur dan sampah pun tampak beruas-ruas di sepanjang Rawa Kuning, Jakarta Timur.
Perahu itu adalah satu-satunya perahu penyeberangan yang kami temui di kanal. Tampaknya, perahu tambang ini biasanya digunakan untuk mengangkut anak-anak sekolah yang hendak menyeberang. Namun, sejak Pintu Bendung Gerak ditutup lantaran sedang ada pengerukan lumpur, sejak itu pula perahu ini tak berdaya. Kini, pemiliknya pergi entah kemana.
Kami telah menyusuri kanal yang panjangnya hampir setara empat kali bolak-balik melintas di ruas jalan protokol tersibuk di Jakarta, Thamrin-Soedirman, untuk menyelisik kehidupan pagi-siang-dan malamnya.
Dalam satu bulan penugasan, kami berjumpa warga yang hidup di tepian kanal. Dari petugas penjaga pintu air, warga yang menunggu tanahnya dibebaskan, warga gusuran yang tak ekrasan di tempat baru, hingga nelayan yang merasa diuntungkan karena kanal ini.
Beberapa warga yang kami temui selalu terpana melihat sosok Ilham. Umumnya mereka kerap bertanya, “Saya kayaknya pernah lihat, tetapi di mana ya?”
Ilham memang telah menjelma menjadi sosok selebritas papan atas—bahkan dunia—setelah Barrack Obama terpilih menjadi Presiden AS. Wajah dan senyumnya memang mirip sang presiden itu. Kata orang, “sebelas-dua belas.”
Kedekatan Ilham dengan para warga justru mempermudah kami membaur dan berinteraksi. Pernah suatu pagi saya bertemu seorang pemuda yang mencari kami di kantin kantor. Dia adalah salah seorang warga yang kami temui di tepian kanal.
Pemuda itu awalnya sudah lupa nama dan alamat kantor kami, namun dengan bantuan mesin pencari di internet dengan frasa “Pemeran Obama”, dia berhasil menemukan kami. Sungguh hebat usahanya. Dia datang khusus untuk melanjutkan ceritanya soal perilaku petugas keamanan kota di tepian KBT.
Suatu siang yang terik, kami mampir di sebuah warung makan tenda berangka bambu di pinggiran jalan inspeksi dekat perahu penyeberangan yang kandas tadi. Kami menyebutnya warung Ema—nama si pemilik. Sejak adanya KBT, kawasan yang dahulunya empang dan sawah yang sepi ini menjadi jalan alternatif Bekasi-Jakarta yang ramai.
Ilham yang tampak kelaparan segera memesan menu makan siangnya, sementara saya memesan pertolongan pertama pada kehausan. Kami menikmati keteduhan di warung Ema yang—boleh dikata—mirip seperti oase di padang pasir. Mungkin di sinilah satu-satunya warung tenda yang kami temui di sepanjang kanal.
Dalam penugasan ini, beberapa kali kami mampir ke warung Ema untuk sekadar minum atau makan. Meskipun kami tahu bahwa warung ini berbatasan dengan kolam hasil pengolahan limbah—tinja manusia, kami tak ambil pusing. Tidak ada pilihan lain, inilah oase itu.
Untuk pertama kalinya saya melihat keajaiban: sehamparan kawasan persawahan luas yang masih tersisa di Jakarta. Lokasinya di Rorotan, Jakarta Utara. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu permukiman betawi di pinggiran Jakarta dengan burung-burung bangau yang masih terbang berseliweran.
Banyak pelajaran soal kehidupan yang bisa kami teladani di kanal ini: semangat hidup, ketulusan, dan keramahan. Mungkin orang berani mati itu sudah terdengar lumrah, namun mereka yang berani hidup dengan ikhlas sepertinya menjadi hal yang luar biasa.
Selokan raksasa ini memang melahirkan degub baru. Hamparan tanah 400 hektare yang dulunya rawa, empang, sawah, tegalan, dan permukiman menjadi tempat yang menjanjikan kehidupan. Mereka menjalani hidup bak air yang mengalirkan semangat baru. Semangat itulah yang bisa diibaratkan perahu yang menjelajahi kanal untuk menjemput impian di muaranya—berharap tak kandas di tengah jalan.
“Mampirlah lagi ke sini,” ujar seorang petani saat kami melangkahkan kaki ke tanggul menuju sepeda motor yang diparkir di bahu jalan. “Kita bisa bakar singkong setiap malam.”
1. Bayangkan hasil foto seperti apa yang akan inginkan. Hal ini tentu akan memudahkan FK-wan untuk mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan serta penentuan lokasi pengamatan. Seperti contohnya pada foto di bawah ini yang saya ambil beberapa hari lalu saat supermoon terjadi.
Memotret Paras Supermoon
Akhir-akhir ini sebagian masyarakat kita mendengar berita tentang penampakan bulan yang sedikit lebih besar dibandingkan seperti biasanya. Fenomena ini lebih sering dikenal sebagai supermoon atau bulan besar. Pada kenyataannya, fenomena ini disebabkan karena jarak bulan terhadap Bumi yang cukup dekat, sehingga bulan tampak terlihat besar.
Hal ini merupakan konsekuensi akibat bentuk orbit bulan yang elips (lonjong) saat mengedari Bumi. Untuk mudahnya, akan saya berikan sebuah analogi: Seandainya kita melihat seekor gajah dewasa yang kebetulan jaraknya hanya dua meter dari kita, tentu gajah tersebut akan tampak terlihat besar bagi kita. Namun, jika gajah tersebut kita letakkan dua kilometer jauhnya pasti gajah tadi akan terlihat sangat kecil dari pandangan kita.
Kembali pada bulan, wajahnya yang tampak purnama tentu sangat disayangkan untuk kita abaikan begitu saja, apalagi bagi yang hobi fotografi. Rasanya ingin cepat-cepat mengeluarkan body kamera lengkap dengan lensa tele, atau bahkan lensa super telenya. Namun, sebelum melakukan pemotretan, di bawah ini akan saya berikan beberapa kiat singkat untuk memotret bulan purnama.
2. Ketahui jam berapa bulan purnama akan terbit, dan pada arah mana posisinya saat terbit dan terbenam. Hal ini sangat berguna ketika memotret bulan saat terbit atau terbenam dan tentu dengan foreground yang menarik.
Seperti contohnya pada foto di bawah, bulan terlihat sangat besar* dengan latar depan sebuah bangunan cagar budaya. Untuk dapat mengetahui kapan dan jam berapa bulan terbit dan terbenam serta arahnya dapat dilihat pada software astronomi seperti Stellarium atau aplikasi gratis lainnya. Untuk smartphone FK-wan dapat menggunakan aplikasi GoogleSkyMap dan Lunar Phase.
3. Gunakan filter ND untuk close up bulan purnama atau filter GND saat pemotretan bulan purnama yang dilengkapi dengan objek di latar depannya. Atau dapat juga memanfaatkan sekumpulan awan yang melintas di depan bulan sebagai filter alami. Sebagai contoh pada foto di atas, tampak awan yang melintas di depan bulan yang menghasilkan efek slow speed. Hal ini disebabkan karena intensitas cahaya bulan purnama sangat terang, namun akan berbeda jika kita memotret pada saat fase bulan berbentuk sabit yang intensitas cahayanya tidak terlalu terang.
4. Manfaatkan fasilitas live view pada kamera untuk mendapatkan fokus permukaan bulan yang jelas. Dan gunakan juga tampilan histogram untuk mengetahui exposure dan bukaan diafragma yang akan digunakan.
5. Minimalisir getaran saat pemotretan. Baik yang bersumber dari luar seperti angin atau saat jari memencet shutter kamera maupun getaran yang bersumber dari mirror kamera. Untuk hasil yang optimal dapat menggunakan remote wireless atau shutter release, dan tripod sangat dianjurkan untuk dipakai mengingat menggunakan lensa tele yang memiliki sudut pandang yang sempit.
6. Sering-seringlah bereksperimen, makin sering memotret bulan maka akan semakin sering menemukan teknik dan komposisi baru.
Itulah sedikit kiat yang bisa saya bagikan kepada semua. Meskipun saat ini sudah lewat fase purnama namun jangan berkecil hati, karena masih banyak purnama-purnama di bulan berikutnya yang siap kita nikmati. Semoga bermanfaat 
* Ketika bulan berada di sekitar horizon, penampakannya cenderung lebih besar dibandingkan ketika bulan berada di puncak langit. Hal ini disebabkan karena ketidaksadaran kita untuk membandingkan sesuatu dengan objek latar depan seperti pohon atau bangunan. Ilusi ini dikenal dengan nama ilusi bulan yang mirip atau sama dengan ilusi Ponzo atau ilusi optik geometri di mana otak berpikir bahwa apa pun yang ada di atas berada lebih jauh maka ukurannya pun pasti lebih besar, tapi pada kenyataannya ukurannya sama.


ini baru alam yang indah
BalasHapus